Breaking News

    Absen Kerja, Apakah dipotong Gaji?

    Absen Kerja, Apakah dipotong Gaji?

    Pada masa kerja, tentunya sebagian besar karyawan pernah absen karena keperluan tertentu seperti sakit, kepentingan keluarga, serta kepentingan mendesak lainnya yang mengharuskan karyawan tersebut absen kerja. Lalu bagaimana sistem upah karyawan yang tidak masuk kerja? Terdapat potongan atau tidak? Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pengupahan bagi karyawan yang absen kerja diatur dalam pasal 93 ayat 1 menyatakan bahwa perusahaan tidak perlu membayar pekerja atau buruh jika tidak melakukan pekerjaan, namun terdapat ketentuan yang mengharuskan karyawan tetap dibayar meski tidak bekerja, hal ini diatur pada pasal 93 ayat 2. Perusahaan harus tetap membayar pekerja dengan ketentuan:

    1. pekerja/buruh sakit sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan;
    2. pekerja/buruh perempuan yang sakit pada hari pertama dan kedua masa haidnya sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan;
    3. pekerja/buruh tidak masuk bekerja karena pekerja/buruh menikah, menikahkan, mengkhitankan, membaptiskan anaknya, isteri melahirkan atau keguguran kandungan, suami atau isteri atau anak atau menantu atau orang tua atau mertua atau anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia;
    4. pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena sedang menjalankan kewajiban terhadap negara;
    5. pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena menjalan-kan ibadah yang diperintahkan agamanya;
    6. pekerja/buruh bersedia melakukan pekerjaan yang telah dijanjikan tetapi pengusaha tidak mempekerjakannya, baik karena kesalahan sendiri maupun halangan yang seharusnya dapat dihindari pengusaha;
    7. pekerja/buruh melaksanakan hak istirahat;
    8. pekerja/buruh melaksanakan tugas serikat pekerja/serikat buruh atas persetujuan pengusaha;dan
    9. pekerja/buruh melaksanakan tugas pendidikan dari perusahaan.

    Lalu, berapa kali absen yang diberikan izin oleh perusahaan tanpa memotong gaji? hal ini sudah diatur dalam UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pada pasal 93 ayat 4 yang mengatur jumlah absen yang diizinkan dengan ketentuan sebagai berikut:
    – pekerja/buruh menikah, dibayar untuk selama 3 (tiga) hari;
    – menikahkan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;
    – mengkhitankan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari
    – membaptiskan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;
    – isteri melahirkan atau keguguran kandungan, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;
    – suami/isteri, orang tua/mertua atau anak atau menantu meninggal dunia, dibayar untuk selama 2 (dua) hari; dan
    – anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia, dibayar untuk selama 1 (satu) hari

    Berdasarkan ketentuan yang telah diatur oleh undang-undang tersebut, maka perusahaan tetap wajib membayarkan upah karyawan jika memenuhi ketentuan diatas, namun jika sudah melewati batas ketentuan maka perusahaan berhak melakukan pemotongan gaji sesuai dengan kebijakan perusahaan. Lalu bagaimana jika karyawan cuti? Apakah diizinkan? Berdasarkan Undang-Undang No.13 tahun 2003 Pasal 79 ayat 2, seorang pekerja berhak atas cuti tahunan sekurang kurangnya 12 hari kerja, namun hak cuti atau istirahat ini memiliki ketentuan juga yang diatur pada Pasal 79 ayat 2, yaitu hanya karyawan yang sudah bekerja minimal 12 bulan yang berhak mendapat cuti tahunan 12 hari. Maka, perusahaan berhak menolak izin cuti tahunan yang diajukan oleh karyawan yang belum bekerja selama 12 bulan.

    Bagaimanakah jika terdapat libur nasional di hari kerja? Apakah karyawan harus tetap bekerja? Menurut Pasal 85 ayat 1 menyebutkan bahwa pekerja/buruh tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi (UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan) sehingga, karyawan diperbolehkan tidak bekerja karena libur resmi nasional, namun jika karyawan tetap masuk bekerja, maka perusahaan wajib membayarkan upah lembur sebagaimana diatur dalan UU No,13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pada pasal 85 ayat 3 yang menyatakan bahwa pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan pada hari libur resmi wajib membayar upah kerja lembur.

    Kesimpulannya adalah, perusahaan akan memberikan izin absen kerja pada karyawan jika sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku sebagaimana telah dibahas, beserta ketentuan pembayaran upahnya, beberapa kondisi memungkinkan karyawan melakukan absen kerja dan tetap mendapat upah kerja.

    Sumber:
    Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

    Related posts

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: