Breaking News

    Apa itu Social Media Anxiety Disorder? Yuk, Kenali Tanda-tandanya

    Apa itu Social Media Anxiety Disorder? Yuk, Kenali Tanda-tandanya

    Media sosial telah ada selama sekitar 15 tahun, dan berkembang secara dramatis sepanjang waktu. Penggunaannya yang sangat tinggi bisa menjadi indikasi bahwa seseorang telah “kecanduan” media sosial. Kemudian berkembang istilah baru mengenai akibat penggunaan media sosial yang berlebihan, yaitu Social Media Anxiety Disorder (SMAD). Apa itu SMAD? Bagaimana cirinya? Simak pembahasannya di artikel kali ini.

    SMAD adalah sindrom yang berhubungan dengan kecemasan yang diperoleh saat penggunaan media sosial mempengaruhi kesejahteraan mental dan fisik seseorang. Gejala yang ditampilkan biasanya mirip dengan kecemasan pada  umumnya, seperti jantung berdebar, berkeringat, muncul rasa takut, cemas, tegang, dan tidak nyaman tapi dalam hal ini dikaitkan dengan penggunaan media sosial. Ciri khas dari orang yang mengalami SMAD antara lain:

    1. Ponsel genggam menjadi harta paling berharga yang sebisa mungkin ada di dekatnya setiap saat, dan merasa cemas ketika berjauhan dengan ponsel genggamnya.
    2. Ketika mengeposkan foto atau tulisan di media sosial lalu ia secara rutin dan terus menerus memeriksa jumlah “suka” dan “komentar” dalam pos tersebut, kemudian merasa cemas atau malu saat pos tersebut tidak menerima banyak “suka” atau “komentar”.
    3. Cemas dan khawatir ketika jumlah pengikut berkurang dan senang ketika jumlah pengikut bertambah di media sosial.
    4. Mulai membandingkan secara berlebihan kehidupannya dengan apa yang ditampilkan orang lain di media sosialnya.

    Hal yang dikhawatirkan akan muncul dari SMAD ini adalah individu mulai menganggap dunia online adalah dunia nyata baginya. Selain itu individu juga mulai membandingkan diri dengan persona online orang lain yang menyebabkan turunnya kepercayaan diri, kecenderungan membenci (orang lain atau diri sendiri), dan rasa cemas berlebihan akan penilaian orang lain. Jika ia menemukan komentar negatif mengenai dirinya di media sosial akan membuatnya semakin cemas. Karena bagi mereka, menampilkan persona yang diterima dan dipuji orang lain (meskipun palsu) adalah hal yang menenangkan.

    Gejala SMAD bervariasi, namun semuanya melibatkan obsesi sosial untuk mempertahankan reputasi atau persona onlinenya masing-masing yang biasanya tidak sesuai degan persona aslinya. Pada tingkat tertentu perilaku ini dapat diterima dan sehat, namun ketika mulai mengganggu fungsi sehari-hari terutama dalam aktivitas sosial tatap muka, maka dibutuhkan intervensi. Banyak orang menggunakan cara “social media break” atau lepas sejenak dari media sosial sebagai usaha untuk menghilangkan obsesi dan kecemasan dalam menggunakan media sosial. Namun hal itu kembali pada seberapa tekad orang tersebut untuk lepas dari efek negatif penggunaan media sosial secara berlebihan.

    Sekian pembahasan mengenai Social Media Anxiety Disorder kali ini. Bagaimana? Apakah kamu salah satunya? Semoga bermanfaat!

     

    Related posts

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: