Breaking News

    Berapa Lama Jam Kerja yang Produktif?

    Berapa Lama Jam Kerja yang Produktif?

    Perkerjaan merupakan cara mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang dalam mendapatkannya memang tidak mudah. Terlebih di era penuh persaingan saat ini. Pekerja dengan jabatannya yang tinggi maupun rendah, memiliki hak dan kewajiban yang harus diperhatikan. Terutama bagi pemilik perusahaan atau pengelola perusahaan tersebut. Mulai dari masalah kesejahteraan, kesehatan, upah minimum yang sering kali jadi perdebatan, hingga masalah jam kerja yang tidak kalah menyita perhatian. 

     

    Jam kerja 8 jam per hari

    Sebagai pekerja, Anda mungkin pernah bergumam, mengapa jam kerja harus delapan jam per hari? Sebagian besar orang profesional di seluruh dunia juga menjalani standar jam kerja yang sebenarnya telah berlangsung lebih dari satu abad tersebut.

    Ide penetapan jam kerja ini pernah diungkap oleh Robert Owen, seorang sosialis dari Inggris yang mencetuskan istilah “delapan jam bekerja, delapan jam rekreasi, delapan jam istirahat”. Sayangnya deretan aksi untuk meregulasi ulang kebijakan jam kerja ini tidak membuahkan hasil.

     

    Aturan mengenai jam kerja di Indonesia pun telah diatur dalam Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, khususnya pasal 77 sampai dengan pasal 85.

    Pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003 mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. Ketentuan jam kerja ini telah diatur dalam 2 sistem seperti yang telas disebutkan diatas yaitu:

    • 7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1  minggu; atau
    • 8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu.

    Pada kedua sistem jam kerja tersebut juga diberikan batasan jam kerja yaitu 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu. Apabila melebihi dari ketentuan waktu kerja tersebut, maka waktu kerja biasa dianggap masuk sebagai waktu kerja lembur sehingga pekerja/buruh berhak atas upah lembur.

    Berdasarkan data International Labor Organization (ILO) seperti dikutip dari Databoks.katadata.co.id, terdapat 26,3 persen dari pekerja di Indonesia yang bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Jumlah pekerja keras Indonesia ini hanya kalah dari Korea Selatan sebanyak 32 persen dan Hong Kong 30,1 persen. Jumlah pekerja yang kerja di atas standar tersebut didominasi oleh negara-negara di wilayah Asia, sedangkan negara-negara barat mempunyai persentase yang lebih sedikit. Di Amerika hanya Amerika Serikat sebesar 16,4 persen, Perancis 10,1 persen dan Jerman 9,6 persen.

    Apakah delapan jam bekerja terbukti efektif?

    Alasan dari mengapa kita bekerja selama delapan jam sehari tidaklah berdasarkan penelitian ilmiah, tetapi dari praktik industri yang telah berjalan selama lebih dari satu abad. Sistem delapan jam kerja ini belakangan sudah terasa tidak relevan di industri kreatif yang para pelakunya sering bekerja hingga larut malam.

    Tidak semua perusahaan menerapkan kebijakan kerja delapan jam per hari secara “saklek”. Sebagai contoh, manajemen Smartbisnis memang memberlakukan jam kerja selama 8 jam setiap harinya. Namun, jika karyawan yang bersangkutan memiliki hal-hal penting yang harus diurus yang mengharuskannya tidak masuk (dan tidak mengambil jatah cuti), sang karyawan dapat mengerjakan pekerjaannya di mana saja. 

    Terdengar menyenangkan? Namun di balik semua itu, tetap ada tanggung jawab besar yang harus diemban.

    Tidak hanya di Smartbisnis, kini beberapa perusahaan, terutama yang bergerak di bidang media atau teknologi, juga menerapkan jam kerja yang lebih fleksibel. Di Tech in Asia Indonesia misalnya, perusahaan yang bergerak di bidang media informasi ini tidak menghitung berapa lama karyawannya ada di kantor atau bekerja dalam sehari. Selama penugasan yang diberikan dapat selesai dalam waktu yang ditentukan, sang karyawan bebas untuk mengerjakannya kapan saja, di mana saja. 

    Beberapa karyawan Tech in Asia Indonesia memilih untuk bekerja dari pagi hingga sore hari. Ada juga yang mulai bekerja dari siang hingga larut malam. Tidak ada batasan jam kerja tertentu untuk para karyawan Tech in Asia Indonesia. 

    Tidak ada yang salah dengan pola jam kerja yang demikian, sebab tingkat energi seseorang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Yang terpenting adalah kualitas kerja, produktivitas, dan kesehatan dari setiap anggota.

     

    Related posts

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: