Breaking News

    Efek Liburan Panjang Terhadap Psikologis

    Efek Liburan Panjang Terhadap Psikologis

    Libur lebaran yang panjang untuk para karyawan merupakan hal yang sangat membahagiakan. Liburan panjang adalah waktu yang sangat menyenangkan karena dapat pergi berwisata atau sekedar beristirahat dan melepas penat. Berkumpul bersama keluarga pun menjadi maksimal. Tetapi, liburan yang terlalu panjang ternyata menimbulkan dampak negatif juga yang didapat oleh tubuh setelah seseorang selesai berlibur. Inilah dua dampak yang akan terjadi pada tubuh kita setelah liburan panjang.

    1. Terkena Efek Mirip Jet Lag

    Selama libur panjang, banyak orang memanjakan diri. Mereka mendapatkan tidur yang lebih banyak pada siang hari dan begadang di malam hari. Namun, ketika harus dihadapkan kembali pada rutinitas bekerja setelah libur lebih dari seminggu, waktu tubuh atau ‘alarm pada tubuh’ menjadi acak dan tidak menentu.

    Akibatnya, orang akan merasa tubuhnya seperti efek yang mirip dengan jet lag. Mereka harus berjuang untuk bangun pagi, merasa lemas, sulit tidur pada malam hari dan mengantuk di siang hari. Hal itu merupakan fenomena yang disebut ‘jet lag sosial’.

    Seperti dikutip Telegrapgh, penderita ‘jet lag sosial’ akan mengalami gejala yang mirip jet lag. Gangguan pencernaan, kehilangan nafsu makan, sulit berkonsentrasi, kekurangan energi, kelelahan dan mudah tersinggung merupakan tanda Anda mengalami ‘jet lag sosial’.

    Untuk mengembalikan waktu tubuh ke fase normal, usahakan bangun pagi. Setelah bangun, sempatkan untuk olahraga, minum segelas air putih setelah bangun tidur dan makan-makanan yang sehat. Dengan melakukan kegiatan tersebut, tubuh akan kembali normal dalam waktu beberapa hari.

    2. Buat Otak Kurang Produktif

    Sejak tahun 2004 hingga 2008, The Hartford, sebuah perusahaan asuransi di Connecticut melakukan survei dan menganalisa lebih dari 1 juta kasus kemunduran otak atau short-term disability akibat liburan panjang. Para pakar menduga hal itu disebabkan karena ketika liburan otak jarang diasah.

    Di Amerika, short-term disability diketahui banyak terjadi pada bulan November dan Desember. Namun pada bulan Januari dan Februari, penyakit kemunduran otak sesaat itu justru diikuti dengan berbagai penyakit seperti depresi, sakit pernapasan dan luka-luka. Sebanyak dua pertiga partisipan diketahui mengalami gejala tersebut.

    Gejala seperti itu bukan sesuatu yang aneh, karena pada saat itu suhu cuaca rendah akibat musim dingin bisa bantu tingkatkan risiko flu, batuk, gangguan pernapasan, kecelakaan dan depresi. Ketimbang musim panas, masalah pernafasan terjadi dua kali lebih banyak pada musim dingin. Mereka yang punya masalah pernapasan inilah yang lebih banyak mengalami short-term disability, terutama mereka yang menderita pneumonia (radang paru-paru).

    “Ketika udara dingin, tubuh tidak sehat dan ditambah dengan liburan panjang, seseorang akan lebih mudah mengalami sindrom ‘malas’ yang membuat tubuh dan otaknya kurang produktif ketika masa liburan itu usai,” kata Glenn Shapiro, wakil direktur dari The Hartford, seperti dilansir New York Times.

    Related posts

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: