Breaking News

    Fungsi Limbik dan Proses Decision Making

    Fungsi Limbik dan Proses Decision Making

    Pembuatan keputusan (decision making) adalah salah satu fungsi berpikir yang dapat dianggap sebagai kemampuan tertinggi. Kemampuan mengambil keputusan telah menjadi perhatian yang lama dalam ilmu-ilmu otak (neurosains).

    Pengambilan keputusan bisa dilakukan dengan dua cara yaitu pengambilan keputusan rasional dan keputusan emosional. Keputusan emosional ini terkait dengan sistem limbik, dimana dalam pengambilan keputusannya diambil secara cepat, tanpa usaha, insting dan emosional.

    Limbik dikelompokkan sebagai salah satu komponen “otak tua” (paleocortex). Ini bagian otak yang lebih dulu ada dalam otak manusia dan dimiliki semua makhluk dengan bentuk yang berbeda, terutama dimiliki reptil. Limbik dan batang otak kadang disebut bersama sebagai reptilian-mammalian brain. Salah satu fungsi limbik adalah untuk membantu manusia merespon sebuah kejadian yang membutuhkan keputusan cepat. Pada keadaan panik, limbik bekerja secepat kilat dan membombardir otak dengan sejumlah zat kimia agar otak tubuh siaga; nafas memburu, denyut jantung bertambah cepat, otot mengeras, pupil mata membesar dan kelenjar keringat melebar. Tubuh yang siaga ini segera menjadi kuat luar biasa dan siap untuk menghadapi atau berlari untuk menghindar. Boleh dikata, pada keadaan kalut dan panik seseorang hampir-hampir tidak memiliki otak untuk berpikir dengan waras. Ketika sistem limbik yang mendominasi kinerja otak dalam pengambilan keputusan maka kemungkinan terjadi pembajakan (hijacking) terhadap pikiran rasional sangatlah besar. Dapat terjadi juga karena data kurang lengkap, bias dan menyimpang dan saat yang sama keputusan cepat harus diambil.

    Kecuali pada orang yang sudah sangat terlatih dan piawai, seperti seorang kurator lukisan, berpikir cepat ini memiliki efek yang dramatis yang disebut snap judgement. Akibat pengalaman bertahun-tahun yang diasah terus-menerus dan pengetahuan yang senantiasa diperbaharui sistem berpikir cepat ini dapat menjelma menjadi kekuatan maha dahsyat yang bersumber dari alam bawah sadar (adaptive consciousness). Inilah yang memungkinkan seorang kurator lukisan mendeteksi dalam sepersekian detik patung palsu, atau seorang dokter senior mendiagnosa penyakit hanya dengan mendengar batuk pasien.

    Sumber:
    https://www.kompasiana.com
    www.wordpress.com

    Related posts

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: