Google Analytics Alternative

God factor and human factor

God factor and human factor

Ada sebuah cerita menarik kariers. Di musim salju, seorang pemuda sedang berjalan-jalan menyusuri kota. Ayunan langkahnya itu tiba-tiba terhenti manakala ia melihat seorang anak kecil menggigil kedinginan karena hanya mengenakan pakaian yang amat tipis. Dari fisiknya, tahulah pemuda ini kalau anak kecil itu adalah seorang pengemis. Anak kecil itu terus menggigil sambil memegang perutnya yang kempes. Tampaknya ia belum makan hari ini.

Dalam hati, si pemuda ini mengeluh dan marah kepada Tuhan. “Tuhan, mengapa Engkau begitu tega menciptakan anak kecil itu untuk mengalami penderitaan dan kemiskinan yang begitu memilukan?” Mengapa Engkau tidak berbuat sesuatu dan menolong dia?” keluhnya.

Tak lama kemudian, pemuda ini mendapat jawaban. Di dalam hati kecil pemuda ini, Tuhan menjawab, “Aku telah berbuat sesuatu. Aku telah menciptakan engkau untuk menolong anak kecil itu.” Seketika itu juga si pemuda barnama Anthony de Mello ini mengalami pencerahan batin. Ia tahu bahwa tanggung jawab untuk menolong pengemis kecil itu ada di tangannya, bukan tanggung jawab Tuhan.

Memang ada hal-hal yang harus kita lakukan, namun ada pula hal-hal yang hanya bisa dilakukan Tuhan. Motivator dan pakar kepemimpinan John C. Maxwell pernah mengatakan ada 2 faktor penting ketika kita megerjakan sesuatu. Ada yang namanya God factor dan human (leadership) factor. God factor adalah hal-hal yang berada dalam kekuasaan dan penyelenggaran Tuhan. Sedangkan leadership factor adalah faktor yang harus dilakukan pemimpin demi sebuah keberhasilan. Leadership factor ini betul-betul adalah human factor. “Without God, we can not that’s God factor. But, without us God will not, that’s leadership factor,” katanya.

Ya, tanpa Tuhan kita tidak bisa apa-apa . Jadi kitanya mesti berbuat sesuatu dulu. Kalau kita telah mengerahkan potensi terbaik kita maka yakinlah Tuhan akan memberkati pekerjaan kita. Yakinlah bahwa hidup manusia dapat dijadikan persembahan syukur kepada Tuhan. Bukankah salah satu cara memuliakan Tuhan adalah lewat karya nyata kita? Yakinlah Tuhan akan selalu memberkati pekerjaan manusia berlandaskan cinta kasih.yang memberikan manfaat baik kepada sesama

Sayangnya, terlalu sering manusia mengharapkan magic (sulap) dari Tuhan. Kerap berdoa dan mendesak Tuhan agar segera mengubah keadaan tanpa kita sendiri mau berbuat sesuatu. Mungkin banyak yang berkata, “Biarlah Tuhan yang membereskannya. Tuhan kan bisa mengerjakan hal-hal yang dianggap mustahil oleh akal sehat manusia.” sikap seperti ini kurang bijaksana. Bukankah Tuhan telah menganugerahkan hidup, pengetahuan dan berbagai ketrampilan kepada manusia sehingga seharusnyalah bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik? Anugerah yang diberikan itu ibarat talenta yang harus kita kembangkan agar berguna bagi Anda dan juga orang lain kariers.

Jadi, ada bagian yang harus manusia kerjakan dan ada bagian yang merupakan wewenang Tuhan. Mari, kerjakan yang merupakan tugas sebagai manusia agar Tuhan berkenan memberkatinya.

 

Related posts

Leave a Reply

%d bloggers like this: