Google Analytics Alternative

Learned Helplessness Pada Pencari Kerja

Learned Helplessness Pada Pencari Kerja

Ketika seseorang mencoba untuk meraih sebuah tujuan dan menemukan bahwa mereka tidak mampu melakukannya karena adanya hambatan dari luar, maka ia akan mulai merasa frustrasi dan kehilangan minat, sampai pada titik ia berhenti mencoba.

Sebagai konsekuensinya, akan muncul rasa depresi, stress, dan bersikap apatis terhadap lingkungan.

Gejala-gejala tersebut sering dikatakan sebagai Learned Helplessness.

Apa Itu Learned Helplessness?

Martin Seligman (1975) menggunakan istilah learned helplessness untuk menggambarkan situasi ketika individu terus menerus dihadapkan pada situasi tidak menyenangkan yang tidak bisa dihindari sehingga individu tersebut membuatnya menerima begitu saja situasi berikutnya, dan tidak melakukan upaya apapun untuk mengatasinya.

Dweck (2000) menjelaskan bahwa pada individu yang mengalami learned helplessness, ketika ia dihadapkan pada kegagalan maka ia akan cenderung menilai bahwa kegagalannya disebabkan karena ketidakmampuan pribadinya, sehingga memungkinkan munculnya emosi negatif, kemunduran dalam kinerja, dan kemerosotan self-esteemnya.

Learned Helplessness pada Pencari Kerja

  • Keadaan Learned Helplessness banyak terjadi pada orang-orang yang sedang mencari kerja. Seseorang mungkin saja memiliki gelar sarjana atau master, namum sekeras apapun individu itu berusaha, tidak satupun panggilan kerja ia terima.
  • Semakin berjalannya waktu, ia menganggap bahwa sekeras apapun ia mencoba, pencapaiann yang ia harapkan tidak juga ia raih. Hal ini bisa berujung pada kondisi learned helplessness dan berhenti berusaha untuk melamar pekerjaan melihat betapa sia-sia usaha yang dilakukan selama ini.

Bagaimana ciri ketika seorang pekerja mengalami learned helplessness?

  • Hilangnya keinginan untuk menghadapi situasi yang sebenarnya mampu ditangani

Seorang individu menjadi kehilangan minat untuk menghadapi kondisi yang sebenarnya bisa ia tangani. Seorang pekerja menjadi tidak berminat untuk melamar pekerjaan karena ia tidak mau menghadapi kenyataan ketika usahanya gagal.

  • ‘Mencoba’ dianggap hal yang membuang waktu

Individu kemudian memiliki kebiasaan untuk tidak mau mencoba sebagai efek dari kegagalan beruntun yang dialami sebelumnya. Seorang pencari kerja akan mulai tidak mau mencoba untuk melamar karena ia yakin usahanya tidak akan pernah berhasil.

  • Cenderung menghindari kegagalan daripada berusaha mencari wawasan

Seorang pencari kerja akan berusaha sebisa mungkin menghidari kondisi gagal. Ia akan berhenti melakukan upaya apapun. Ia cenderung menghindari kondisi itu daripada mencoba melatih skillnya untuk memperbesar peluang diterima kerja.

  • Merosotnya self-esteem

Kegagalan beruntun menyebabkan seorang pencari kerja meyakini bahwa kegagalan ini disebabkan oleh ketidakmampuan pribadinya. Dampaknya, akan muncul emosi negatif pada dirinya. Ia akan fokus pada kegagalan yang dialaminya, mengalami kemunduran dalam kinerja, dan self-esteemnya pun perlahan akan mengalami penurunan.

Apa yang seharusnya dilakukan?

  • Terus asah kemampuan
  • Sambil menunggu panggilan kerja, manfaatkan waktu dengan mengikuti berbagai pelatihan untuk mengasah kemampuan.
  • Komunikatif

    coba membuat koneksi dengan orang lain. Berkenalan dengan orang di luar lingkaran pertemanan, perbanyak jaringan sehingga siapa tahu dari sanalah peluang kerja kita muncul.

  • Inisiatif
  • Jika belum mendapatkan pekerjaan, buatlah peluang kerja sendiri. Selain mendapatkan penghasilan, kita juga bisa mendapatkan wawasan mengenai pengelolaan bisnis.
  • Berpikir positif

    Ketika mengalami kegagalan, jangan terus memikirkan mengapa kegagalan itu bisa terjadi, tapi cari solusinya agar kita mampu menangani kondisi serupa di masa depan.

Related posts

Leave a Reply

%d bloggers like this: