Google Analytics Alternative

Metode Training yang Unik

Metode Training yang Unik

Perekrutan pegawai atau staf baru tentunya akan menguras banyak sekali tenaga bagi staf lain yang ada di perusahaan tersebut. Salah satu hal yang biasanya cukup membuat ribet adalah cara memberikan training yang baik untuk staf baru.

Training tersebut diberikan kepada staf baru agar kinerja yang diberikan kepada perusahaan bisa maksimal. Dengan demikian perusahaan tidak merugi karena memiliki pegawai atau staf yang mampu bekerja seperti pegawai lama meskipun baru saja bekerja di perusahaan tersebut.

Tentunya kondisi yang seperti ini diharapkan oleh semua perusahaan yang ada dimanapun. Kebanyakan para staf atau karyawan baru selalu membutuhkan waktu untuk memulai pekerjaan dengan profesional. Bahkan ada yang sangat memakan waktu atau membutuhkan waktu yang lama untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja barunya.

Cara memberikan training yang baik untuk staf baru bisa dilihat dari beberapa metode yang digunakan oleh perusahaan tersebut. Jika menggunakan metode yang baik maka bisa diyakini cara pemberian trainingnya pun bisa baik. Adapun beberapa metode yang bisa digunakan oleh sebuah perusahaan sangatlah banyak, diantaranya adalah metode on the job training, balai, demonstrasi, simulasi, ruang kelas, dan apprenticeship.

Selain itu cara yang lainnya adalah dengan adanya partisipasi aktif dan interaktif dari staf baru ketika menjalani sebuah masa training. Dengan demikian ada perasaan senang dan tidak terbebani ketika menjalani training atau pelatihan tersebut sehingga training mampu berjalan dengan baik.

Biasanya staf yang baru masuk kerja akan canggung untuk memperkenalkan diri atau menyapa terlebih dahulu. Maka akan lebih baik jika staf senior yang memperkenalkan staf baru terhadap karyawan lain. Anjurkan pada staf yang baru agar santai saat memulai percakapan, karena perkenalan yang terbata-bata akan menimbulkan kesan yang kurang baik.

Pelatihan memang telah menjadi sebuah metode yang lazim digunakan oleh perusahaan untuk melakukan peningkatan kompetensi karyawannya.

Beberapa perusahaan telah menerapkan pelatihan dengan porsi presentasi materi yang minim. Selebihnya, fasilitator bertugas memfasilitasi berbagai studi kasus, diskusi kelompok, simulasi serta game yang telah disesuaikan dengan tujuan pelatihan. Hasilnya, pelatihan tidak lagi menjadi ajang ”indoktrinasi” yang membosankan dan melelahkan.

Dasar pemikirannya sebenarnya sederhana: biarkan peserta ”menemukan” sendiri nilai penting dari karakter yang mereka pelajari. Pelatihan harus bisa meyakinkan peserta kenapa mereka perlu mengimplementasikan karakter tersebut dalam pekerjaan sehari-hari.

Metode serupa diterapkan juga di Harvard Business School untuk kelas The Moral Leader. Program yang menarik dengan metode pengajaran yang unik. Di program ini peserta mempelajari etika-etika dalam berbisnis bagi seorang pemimpin. Uniknya, alat bantu utama yang digunakan adalah bacaan fiksi (novel), biografi, serta cerita sejarah. Peserta dibawa masuk ke dalam sebuah cerita dan menghayati karakter yang diperankannya.

Di akhir cerita mereka pun akan tahu apa konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil. Melalui proses analisa, interpretasi dan debat, para peserta difasilitasi untuk memahami nilai penting moralitas dalam kehidupan. Mereka mengambil kesimpulan secara mandiri, bukan disuapi.

Related posts

Leave a Reply

%d bloggers like this: