Breaking News

    OCB Sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

    OCB Sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

    HRs sempet dengar berita tentang tanggapan Menteri Keuangan Sri Mulyani membalas curhatan seorang guru?

    Beberapa waktu lalu Sri Mulyani membalas curhatan para guru dengan sebuah kritikan. “yang mengajar guru honorer, yang menerima gaji guru tetap, ini harus diperhatikan.”” Kalau guru sibuk memikirkan gaji saja, pendidikan siapa yang memikirkan’”

    Di lain kesempatan Menteri Pendidikan pun sepakat untuk lebih memperhatikan guru honorer. Dengan beban kerja sebagai pendidik bahkan melebihi guru tetap, tetapi mereka belum mendapatkan kesejahteraan, bahkan dengan upah dibawah UMR.

    Gambaran ini mengingatkan kita akan ulasan Denis W Organ dalam bukunya Organitation Citizenship Behavior (OCB). Sebagai contoh dia membandingkan dua pegawai dengan kualitas yang sama dalam sebuah pekerjaan. Tetapi salah satu dari mereka tidak bersedia bekerja sampai larut, hanya sesuai dengan jam kerja, sementara satunya bersedia bekerja sampai larut, diluar jam kerja bahkan bersedia membantu bos-nya kapan pun dibutuhkan. Menurutnya tipe individu kedua memiliki perilaku OCB yang lebih baik, yang didapatkan gambaran nya pada guru honorer dalam dunia pendidikan.

    Menurut Denis W Organ penulis Organitation Citizenship Behavior (OCB), singkatnya OCB merupakan perilaku ekstra individu, yang mampu meningkatkan efektivitas dan fungsi organisasi. Seperti perilaku menolong, kepatuhan dan loyatitas. Ia menambahkan bahwa perilaku tersebut memberikan dampak positif terhadap organisasi dan akan dirasakan dampaknya secara signifikan apabila dilakukan secara kolektif.

    Kinerja yang baik menuntut perilaku sesuai guru yang diharapkan oleh organisasi sertifikasi sebagai salah satunya. namun perilaku yang menjadi tuntutan organisasi saat ini adalah tidak hanya perilaku in-role, tetapi juga perilaku extra-role. Perilaku extra-role ini disebut juga dengan OCB. OCB merupakan istilah yang digunakan untuk mengidentifikasikan perilaku guru sehingga dia dapat disebut sebagai anggota yang baik (Sloat,1999). Perilaku ini cenderung melihat seseorang (guru) sebagai makhluk sosial (menjadi anggota organisasi), dibandingkan sebagai makhluk individual yang mementingkan diri sendiri.

    Sebagai makhluk sosial, manusia mempunyai kemampuan untuk memiliki empati kepada orang lain dan lingkungannya dan menyelaraskan nilai-nilai yang dianutnya. Dengan nilai-nilai yang dimiliki lingkungannya untuk menjaga dan meningkatkan interaksi sosial yang lebih baik. Terlebih lagi, untuk melakukan segala sesuatu yang baik manusia tidak selalu digerakkan oleh hal-hal yang menguntungkan dirinya, misalnya seseorang mau membantu orang lain jika ada imbalan tertentu. Kondisi guru honorer dengan kesejahteraan yang terbatas membuat mereka mengajar dengan keikhlasan dan kondisi yang lebih bebas.

    Perilaku individu yang bebas dan spontan yang dihasilkan dari karakter seseorang ataupun karakter pekerjaan atau organisasinya, juga berasal dari hubungan dengan atasan. Perilaku ini dilakukan kepada organisasi atau pun rekan kerja, yang menghasilkan peningkatan efektivitas organisasi melalui pengaruh langsung dari pekerjaan ataupun melalui pengaruh tidak langsung secara sosial yang berdasarkan peningkatan hubungan interpersonal.

    Dengan adanya tanggapan dari Menteri Keuangan dan Menteri pendidikan—menaruh harapan bagi para guru honorer untuk lebih diperhatikan dan diapresiasikan etos kerja nya yang sangat berpengaruh pada kurikulum pembelajaran di sekolah. Hal ini pun akan menjadikan motivasi mengajar dan mengabdi guru lebih tergugah lagi, memang guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa—tetapi tidak salah juga kan jika kinerja nya patut untuk diapresiakan?

    Related posts

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: