Breaking News

    Risiko Kecanduan Gawai pada Anak-anak

    Risiko Kecanduan Gawai pada Anak-anak

    Apa itu Gawai?

    Bila kita baca di wikipedia, arti Gawai (bahasa Inggris: gadget) adalah suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya, sebagai contoh yaitu smartphone (ponsel pintar). Nah, Ayah Ibu, penggunaan perangkat bergerak ini, bagi anak-anak, memiliki ragam tujuan. Pemakaian ponsel pintar yang digunakan pada anak-anak ternyata bisa punya sisi negatif bila berlebihan.

    Tindakan orang tua mendiamkan tangisan anak-anak dengan membiarkan mereka asyik dengan gawai seakan sudah menjadi hal yang lumrah. Perangkat ponsel pintar maupun tablet, sering dijadikan senjata pamungkas para orang tua untuk menghentikan tangisan anak-anak. Gawai seperti ponsel pintar atau tablet sudah begitu dekat dengan anak-anak di dunia.

    Sejatinya, hubungan anak-anak dengan benda-benda teknologi telah ada jauh sebelum perangkat bergerak lahir. TV dan video game, merupakan dua contoh benda berbau teknologi yang telah akrab dengan anak-anak. Salah satu maraknya penggunaan perangkat teknologi pada anak-anak adalah karena para orang tua, menjadikan perangkat yang mereka berikan itu sebagai “pengasuh” bagi anak mereka.

    Apa dampak buruk yang ditimbulkan Gawai?

    Penggunaan benda-benda teknologi atau perangkat bergerak bagi anak-anak, patut diwaspadai akan dampak buruk yang mungkin ditimbulkan. TV misalnya, benda yang umumnya ditempatkan di sudut favorit ruang keluarga itu, diyakini berdampak pada berkurangnya interaksi antara anak-orang tua.

    Salah satu perangkat bergerak, tablet diyakini memiliki manfaat yang cukup baik pada anak-anak. Ukuran serta desain tablet ditambah dengan gim interaktif di dalamnya, bisa memberikan stimulus pada anak-anak. Sayangnya, meskipun gim interaktif dianggap baik, gim itu sejatinya masih masuk dalam ketegori satu arah. Anak-anak yang menggunakannya, hanya menatap layar dan mengikuti perintah semata. Tidak ada kegiatan fisik berarti, sebagaimana anak-anak bermain bola dengan ayahnya misalnya.

    Pemakaian perangkat bergerak bagi anak sudah sepantasnya dibatasi. Anak-anak, terutama anak-anak sebelum usia sekolah, membutuhkan interaksi fisik untuk membangun bagian parietal cortex di otak mereka. Parietal cortex merupakan bagian di otak yang melakukan proses visual-spasial dan membantu anak-anak memahami sains dan matematika.

    Ponsel pintar maupun tablet, tentu tak sebanding dengan masa depan anak-anak kelak saat mereka memasuki usia dewasa. Keputusan tegas dibutuhkan oleh para orang tua demi anak-anak mereka sendiri.

    Related posts

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: