Breaking News

    Strategic Human Resource Management (Bagian 1)

    Strategic Human Resource Management (Bagian 1)

    Kinerja maupun perilaku yang dimiliki seorang toxic employee jelas sudah ada dari lingkungan tempat mereka bekerja sebelumnya. Mereka tampaknya terlalu percaya diri dengan kemampuannya, memiliki kepentingan sendiri, dan mengklaim aturan harus diikuti, akan lebih mungkin menjadi toxic employee dan melanggar peraturan perusahaan dan bahkan juga hukum. Jadi, salah satu strategi untuk manajer adalah menyaring pekerja yang berpotensi memiliki sifat-sifat ini agar mengurangi peluang mempekerjakan toxic employee. Namun, toxic employee terkadang lebih produktif, setidaknya dalam hal kuantitas hasil kerja yang dihasilkan. Hal ini bisa menjelaskan mengapa toxic employee dipilih atau bahkan tetap berada di perusahaan.

    Secara khusus, rasa percaya diri yang tinggi merupakan indikasi dari karyawan yang sangat produktif namun bersifat toxic. Seringkali, perilaku karyawan seringkali tidak termasuk ke dalam penilaian kinerja/ sistem manajemen (jika ada), sehingga kompetensi teknis adalah hal penting tetapi “perilaku” bukan bagian dari pekerjaan “sebenarnya”. Jadi, yang terpenting adalah bahwa para atasan dan HR harus mempertimbangkan perilaku dari toxic employee dan produktivitasnya daripada mengandalkan produktivitas semata sebagai kriteria karyawan yang baik. Hal itu dapat memungkinkan seorang atasan untuk menghindari seorang pekerja yang akan menyebabkan kerugian dalam perusahaan karena seorang toxic employee jika atasan hanya mempertimbangkan segi produktivitasnya saja.

    Related posts

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: