Breaking News

    Suka Duka Seleksi CPNS

    Suka Duka Seleksi CPNS

    Beberapa tahun terakhir, CPNS menjadi trending topic dikalangan para job seeker. Ialah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bisa dibilang sebagai sebuah pekerjaan yang menjadi harapan jutaan ummat yang ada di seluruh penjuru Indonesia. Tersedia bagi seluruh lintas jurusan, baik eksakta maupun non-eksakta, bagi lulusan pendidikan menengah hingga perguruan tinggi negeri. Sederet keuntungan menanti para calon pegawai negeri sipil tersebut, diantaranya: keamanan jaminan kerja, karena langsung diangkat dengan SK Menteri; gaji Pasti, ada gaji pokok dan berbagai macam jenis tunjangan; tidak ada PHK, jarang sekali kecuali Anda melakukan kesalahan-kesalahan berat; punya jenjang karir dan jabatan yang jelas; kesempatan melanjutkan kuliah S1 hingga S3 gratis dengan biaya pemerintah; dan yang paling penting jaminan di hari tua melalui dana pensiun, jadi tidak heran apabila PNS ditasbihkan sebagai profesi incaran nomor wahid di Indonesia.

    Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Litbag Koran Sindo, dari 10 profesi populer di Indonesia, PNS nangkring diurutan pertama sebagai pekerjaan yang paling sangat diinginkan oleh masyarakat Indonesia. Banyak yang bercita-cita untuk bisa menjadi abdi negara dan tidak sedikit pula yang membenci pekerjaan sebagai pelayan masyarakat ini. Ya bisa dibilang PNS menjadi profesi yang dibenci tapi dicintai. Seabrek citra negatif yang ditimpakan kepada PNS membuat orang-orang berpandangan sebelah mata terhadap profesi yang satu ini, mulai dari pelayanan publik yang tidak optimal, kurang ramah, acuh tak acuh, muka masam, plesiran keluar disaat jam kerja, bolos ke kantor di hari pertama paska liburan, dan kelakuan-kelakuan tidak pantas lainnya, tak ayal akhirnya banyak yang memplesetkan akronim PNS menjadi “Pegawai Negeri Santai”.

    Akan tetapi, kesabaran para peminat PNS seringkali diuji pada penerimaan CPNS. Mereka harus rela menanti berbulan-bulan lamanya untuk mendapatkan kepastian dari pemerintah melalui Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) yang dikomandoi langsung oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) terkait jadwal penerimaan CPNS setiap tahunnya. Panselnas sering kali melakukan pengunduran jadwal yang pada semulanya dijanjikan pada awal Juni, kemudian pindah ke akhir Juli, dan akhirnya baru terealisasikan pada akhir Agustus lalu (sedikit lebih baik daripada ketika molornya sampai akhir September). Dan tentunya pihak Panselnas memiliki pembelaan sendiri terkait melencengnya jadwal pelaksanaan CPNS, salah satu alasan poluler yang dikemukakan oleh pihak Panselnas adalah permasalahan penetapan jumlah alokasi formasi di tiap-tiap instansi yang tarik-ulur.

    Fakta di lapangan membuktikan bahwa tidak semua peserta CPNS lulus berdasarkan kemampuan akademiknya, yang cumlaude bisa saja disingkirkan oleh peraih IPK standar, jadi istilah “orang pintar kalah sama orang bejo” sangat mungkin terjadi disini. Diluar kemampun akademik, terdapat beberapa faktor teknis yang ikut serta mempengaruhi kelulusan para peserta CPNS, terutama dalam hal pemilihan instansi dan formasi. Misalnya Kementerian Keuangan yang merupakan salah satu instansi favorit, pada tahun ini jumlah pendaftar mencapai angka 134666 orang sedangkan yang dibutuhkan hanya 9000 orang saja, bayangkan saja jumlah pelamar mencapai 15 kali lipat dari jumlah alokasi formasi yang tersedia, dengan kondisi demikian maka hasilnya sebanyak 125666 orang harus rela mengubur mimpi mereka untuk menjadi PNS tahun ini.

    Untuk menjaga peluang lulus CPNS, ada baiknya bagi para peserta agar pandai-pandai dalam memilih instansi dan formasi. Misalnya dengan memilih instansi yang sepi peminat (non-favorit), tentu disini dibutuhkan intuisi tinggi melalui strategi pemetaan dan pertimbangan masing-masing, contoh: pada institusi A tersedia dua formasi untuk lulusan Ekonomi Pembangunan/ Manajemen/ Akuntansi, sedangkan pada institusi B tersedia satu formasi untuk lulusan Manajemen, tentu peluang lulus lebih besar di institusi B karena peserta hanya menghadapi saingan dari satu bidang ilmu saja, sedangkan pada institusi A persaingan lebih komplek karena ada tiga rumpun ilmu disitu. Selain itu pelamar juga harus teliti dan seksama dalam memperhatikan persyaratan yang diajukan instansi, karena tiap-tiap instansi berbeda dalam mensyarakatkan kebutuhannya, misalnya ada instansi yang mensyaratkan pelamar harus berasal dari jurusan yang akreditasinya minimal B. Kemudian ada juga institusi yang mensyaratkan TOEFL yang nilainya berfariasi dari 450 sampai 500. Penting bagi para pelamar CPNS untuk tidak lalai dalam memperhatikan segala persyaratan tiap-tiap instansi, dua contoh minimal persyaratan diatas bisa dijadikan gambaran, mudahnya saja bagi para calon peserta yang berasal dari jurusan yang akreditasinya dibawah yang disyarakat maka harap melamar institusi yang sama sekali tidak mensyarakatkan minimal akreditasi.

    sumber:
    koran-sindo.com/node/384472
    http://www.jsithopi.org/2014/09/cpns-fenomena-dan-permasalahannya/

    Related posts

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: