Breaking News

    Tips Penyembuhan bagi Atlit yang Cedera

    Tips Penyembuhan bagi Atlit yang Cedera

    Menjadi seorang atlit pasti tidak terlepas dari kemungkinan untuk mengalami cedera, baik ringan maupun berat. Cedera yang dialami akan berdampak secara berbeda-beda pada masing-masing atlit, biasanya bergantung tingat keparahan cederanya. Semakin parah cedera yang dialami, dampaknya tidak hanya terasa di fisik, tetapi juga di psikologis atlit tersebut.

    Dalam proses penyembuhan cedera, atlit tidak hanya harus menyembuhkan lukanya secara fisik, tetapi juga psikologis. Karena pengalaman cedera bisa membuat atlit trauma. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu proses penyembuhan atlit yang cedera.
    1. Edukasi
    Dalam fase ini, penting bagi atlit untuk menerima deskripsi anatomi cedera dan jadwal pemulihan dari ahli medis. Atlit perlu tahu bagaimana proses pemulihan melibatkan nyeri otot dan stasis. Mereka bahkan harus menyadari bahwa cedera tidak hanya menghasilkan rasa sakit. Atlit harus belajar untuk tidak menggunakan obat penghilang rasa sakit yang berlebihan dan mengenali nyeri cedera yang merupakan gejala negatif dan nyeri rehabilitasi yang akan mereka rasakan. Visi yang jelas dari program pemulihan akan mengurangi kecemasan pemain dan membuat mereka lebih realistis melihat situasi.

    2. Menetapkan tujuan (goal-setting)

    Menetapkan tujuan menentukan peningkatan motivasi dan komitmen, serta akan memberikan arahan untuk mengoptimalkan pemulihan. Menetapkan tujuan yang jelas dan realistis akan merangsang motivasi pemain baik jangka pendek dan jangka panjang. Selain itu, hal ini akan mengurangi kecemasan dan meningkatkan kepercayaan diri pemain untuk kembali bermain dan bersaing di lapangan.

    3. Visualisasi (imagery)

    Teknik visualisasi atau imagery biasa digunakan untuk memperbaiki kepercayaan diri pemain dengan membayangkan situasi yang mereka alami, mulai dari gambaran apa yang mereka lakukan, mereka lihat, dan suara apa saja yang mereka dengar.

    4. Self-talk

    Self-talk dapat diartikan sebagai metode bicara pada diri sendiri untuk berpikir positif dan lebih mengenali diri sendiri. Pemain dapat diminta untuk mengenali dan mengekspresikan rasa sakit mereka ketika mengalami cedera dan bagaimana dampaknya ketika berpikiran negatif. Kemudian pemain diminta mencari sisi positif dari cedera yang mereka alami misalnya dengan menjelaskan adanya dukungan sosial dari orang-orang sekitar dan kemajuan selama pemulihan.
    Pernyataan positif yang didapatkan pemain dapat dituliskan pada kertas dan mereka diminta mengulang pernyataan tersebut setiap hari, misalnya dengan berkata, “Aku bisa melakukannya” atau “Aku akan pulih lebih cepat dari yang dokter katakan.” Metode ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan konsentrasi dan kepercayaan diri pemain.

    5. Social support (dukungan sosial)

    Psikolog, pelatih, dan fisioterapis memiliki kemungkinan untuk mendukung langsung dalam pemulihan cedera pemain. Tetapi mereka juga melibatkan rekan setim pemain tersebut. Fisioterapis yang dekat dengan pemain selama rehabilitasi memberikan dukungan emosional dan informasi yang signifikan.
    Dukungan emosional yang diberikan orang-orang sekitar atau keluarga memiliki efek mengurangi depresi, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu, dukungan yang diberikan oleh pemain lain yang cedera juga berpengaruh pada peningkatan strategi bertahan, motivasi melakukan pengobatan dan kepuasannya, serta mengurangi rasa takut yang dialami pemain tersebut.

    Sumber:
    https://football-tribe.com/indonesia/2017/04/02/peran-psikologi-dalam-cedera/

    Related posts

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: