Breaking News

    “WannaCry” dan Kohesivitas Team

    “WannaCry” dan Kohesivitas Team

    Serangan malware wannacry yang belakangan sering ditemukan dan mindset negatif memiliki banyak kesamaan—keduanya bertindak sebagai virus yang menyerang bisnismu. Jika tim Anda terinfeksi, apa saja yang perlu dilakukan?

    Awal Mei 2017, sekitar seperempat dari satu juta organisasi diserang oleh malware yang merusak sistem komputer dan mengganggu aktivitas di berbagai perusahaan. Setelah ditelusuri, malware yang merusak tersebut disebut dengan “wannacry”, yang mengambil alih kendali komputer dan menghalagi pengguna menggunakan komputer kecuali mereka membayar tebusan. Wannacry berdampak pada berbagai organisasi yang tidak menggunakan Microsoft Windows dengan sistem operasi terbaru sehingga tidak mampu memperbaharui sistem keamanan yang terbaru. Lalu apa kaitannya dengan tim, manajemen, atau staf Anda?

    Dalam sebuah tim, hanya diperlukan satu orang untuk memberi pengaruh negatif dan menjadi infeksi terhadap pekerjaan yang sedang dijalankan. Negativitas merupakan hal yang menular. Hal itu seperti wabah yang menyebar dengan cepat dalam lingkungan kerja. Negativitas akan menimbulkan kecemasan, ketidaknyamanan, dan keegoisan bagi anggota tim.

    Untuk pimpinan, salah satu permasalahan yang akan dihadapi adalah bahwa efek dari negativitas ini bisa saja tidak terlihat secara langsung. Tim Anda tidak akan menunjukkan dampak langsung seperti sistem komputer yang rusak karena malware, namun justru akan menunjukkan perfoma kerja yang semakin menurun secara perlahan. Bisa juga diindikasikan oleh perkembangan bisnis yang dijalanka, misalnya pertumbuhan bisnis tidak secepat yang diharapkan, atau target penjualan yang tidak tercapai.

    Apabila Anda menemukan indikasi ini, waktunya untuk bertindak. Sebagai pimpinan, Anda memiliki tanggung jawab untuk mengubah hal ini.

    Emotional Intelligence merupakan vaksin

    Berhadapan dengan menurunnya mood, perilaku, dan sikap membutuhkan kecermatan dan keberanian dari pimpinan. Pimpinan perlu mengembangkan empati, kemampuan mendengarkan, dan kepekaan sosial (singkatnya, emotional intelligence). Emotional intelligence merupakan kunci untuk memberi pengetahuan yang dibutuhkan pimpinan untuk menemukan simptom yang terjadi dalam tim. Pikirkan solusi yang tepat untuk setiap permasalahan.

    Tingkatkan kerja sama tim. Perbaharui pendekatan dalam kerja sama tim. Ibaratkan sistem komputer yang terus diperbaharui untuk mencegah serangan virus atau malware yang semakin canggih, dalam tim kerja pun perlu adanya pembaharuan pendekatan agar negativitas tidak mudah menginfeksi performa tim. Selain itu, lakukan pembaharuan Anda sendiri sebagai pemimpin tim. Buang pemikiran tradisional Anda, jadilah seseorang yang berpikiran terbuka dan penuh dengan positivitas. Performa yang tinggi tidak hanya berurusan dengan jumlah pertemuan. Ini juga menyangkut keefektivan menyalurkan kebutuhan emosional setiap individu tim serta membentuk semangat kerja yang kuat.

    Melakukan pendekatan baru dalam tim tentulah tidak semudah mengunduh program dalam komputer. Hal ini perlu dimulai dengan komitmen untuk bersama-sama berkembang sebagai sebuah tim. Pertama yang perlu dilakukan bisa dengan mencari fasilitator untuk membantu Anda dan tim berkembang.

    Kepemimpinan sekarang tidak hanya tentang mencapai tujuan. Pemimpin baru memiliki berbagai agenda berbeda. Bisnis saat ini harus lebih berfokus dalam investasi keuntungan dan membuat dunia menjadi lebih baik. Pendeknya, ‘kita memerlukan tim yang hebat dan pemimpin yang luar biasa di dunia ini’ (Graham Wilson).

     

    Diterjemahkan dari : A Lack of Team Cohesion Makes You Wannacry (www.pdx-consulting.com/a-lack-of-team-cohesion-makes-you-wannacry-blog.htm)

    Related posts

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: