Breaking News

    Work Balance: Ketika Suami-istri Bekerja, Bisakah Keluarga dan Pekerjaan Di-balance?

    Work Balance: Ketika Suami-istri Bekerja, Bisakah Keluarga dan Pekerjaan Di-balance?

    Saat ini semakin banyak keluarga di mana baik istri maupun suami sama-sama bekerja. Sebabnya bisa macam-macam. antara lain: istri sudah terlanjur bekerja sejak sebelum menikah, terlanjur diberi amanah yang signifikan di tempat kerja, atau berangkat dari keluarga yang sangat concern dengan pendidikan. Sehingga saat dewasa, dia terinspirasi perempuan-perempuan yang berkiprah di wilayah publik.

    Meski istri-suami sama-sama bekerja, seringkali tipe manajemen yang diterapkan masih tipe manajemen model istri di rumah-bapak bekerja, di mana suami berharap mendapat pelayanan seperti suami yang lain yang istrinya ibu rumah tangga. Suami memfokuskan diri mencari nafkah dan menyerahkan sepenuhnya urusan rumah tangga pada istrinya. Namun karena istri bekerja, tidak banyak waktu yang dia miliki untuk mengurus pekerjaan rumah. Akhirnya, untuk membantu seorang istri/ ibu rumah tangga menyelesaikan pekerjaannya, mereka memanfaatkan peran pembantu, juga peran orang tua atau mertua untuk menjaga anak-anaknya. Hal ini memang membantu, namun ada baiknya antara suami dan istri membagi pekerjaan rumah tangga yang ada dan saling menghormati satu sama lain, karena keduanya sama-sama seorang pekerja.

    Jika istri-suami bisa menghargai posisi masing-masing, ada pembagian tugas kerumah tanggaan yang jelas, plus lingkungan kerja mendukung; model kedua ini pun bisa menjadi model ideal. Baik suami, istri, maupun lingkungan kerja, perlu ‘sedikit berkorban’ untuk sekedar menyesuaikan diri dengan konsep baru. Namun, tidak ada yang perlu jadi martir. Istri tidak perlu berhenti bekerja, jika di situ ia bisa berkarya untuk umat manusia. Tidak ada yang tahu bahwa bisa jadi salah satu perempuan bisa mengubah nasib suatu komunitas atau bahkan dunia. Laki-laki pendampingnya pasti laki-laki hebat nan bijaksana

    Meski istri-suami sama-sama bekerja, seringkali tipe manajemen yang diterapkan masih tipe manajemen model istri di rumah-bapak bekerja, di mana suami berharap mendapat pelayanan seperti suami yang lain yang istrinya ibu rumah tangga. Suami memfokuskan diri mencari nafkah dan menyerahkan sepenuhnya urusan rumah tangga pada istrinya. Si istri pasrah saja dengan keputusan suami, karena memang biasanya keluarga lain juga begitu. Namun karena si istri bekerja, tidak banyak waktu yang dia miliki untuk mengurus pekerjaan rumah yang seabrek itu; mulai urusan baju kotor, masak, bersih-bersih, halaman, sepeda rusak, rekening listrik, acara RT, antar jemput anak, dsb. Akhirnya istri membutuhkan “perpanjangan tangan”, yaitu pembantu atau orangtuanya.

     

    Related posts

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: